sastra

sastra

MediaMU.COM

May 24, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Lebaran di Rumah

Oleh: Affan Safani Adham

IDUL Fitri yang seharusnya dijadikan momen berkumpul bersama keluarga serta melepas penat setelah setahun mengumpulkan pundi-pundi penghasilan terkubur sementara. Pasalnya, pemerintah mengimbau masyarakat agar tak pulang kampung saat Idul Fitri guna memutus mata rantai penularan virus Korona atau Covid-19.

Setiap kali lebaran, saya selalu mudik ke Jakarta. Tapi untuk tahun ini, saya dan keluarga memutuskan untuk berlebaran di rumah saja. Terlebih saat ini pandemi virus Korona masih berlangsung. Otomatis lebaran kali ini tidak bisa ke mana-mana. Dan dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan keluarga saya.

Kini, saya tak hanya dihadapkan pada pilihan tidak bisa mudik saat lebaran. Melainkan juga harus berjuang bertahan hidup tanpa sanak keluarga selama pandemi Covid-19.

Sebenarnya Lebaran tahun ini, saya berencana pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga. Namun, tak dinyana, keinginan saya bersama isteri serta anak-anak harus tertunda karena pandemi Covid-19. Kali ini saya harus bertahan di tengah wabah virus Korona di kota yang jauh dari kampung halaman.

“Untuk kali ini terpaksa nggak mudik dulu.”

“Saya memaklumi, Mas.”

Also Read Buku Kenangan

Saya lihat isteri sangat gundah. Perasaannya campur aduk. Sedih. Karena nggak bisa mudik. Juga khawatir kondisi keluarga di kampung halaman dan ada rasa kangen juga.

Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya dan saat sekarang ini banyak terasa perbedaannya. Terlebih lagi, Lebaran kali ini tidak terlalu banyak tamu ke rumah. Ada sih, tapi cuma tetangga dekat.

Suasana lebaran sekarang lebih terasa sepi. Meski begitu tetap harus disyukuri. Yang penting lebarannya kumpul sama keluarga, makan enak, dan bergembira bersama.

Sejak malam itu, pertanda bahwa hari raya Idul Fitri akan segera tiba, suasana sangat sepi. Tidak ada rombongan takbir keliling. Dulu, sebelum ada pandemi Covid-19, suasana sangat meriah. Tapi sekarang sudah tidak meriah lagi.

Di malam takbiran, suasana itu tak semeriah tahun lalu. Tidak seperti terjadi malam Lebaran tahun sebelumnya: suara mercon dan kembang api terdengar di mana-mana. Ya, malam takbiran biasanya identik dengan pawai obor dan mobil-mobil yang dihias.

Lebaran hari pertama, saya dan keluarga shalat di rumah saja. Tidak di Alun-alun Utara seperti tahun-tahun sebelumnya, yang dilanjut silaturahmi ulama dan umara di PDHI Sasonoworo Yogyakarta. Dalam situasi wabah Covid-19 ini, shalat id itu lebih baik dilaksanakan di rumah. Tidak di lapangan terbuka atau masjid.

Setiap kali shalat id, pemandangan orang yang pakai baju baru dan perempuan dengan dandanan menor pasti gampang ditemui. Tapi tidak untuk kali ini.

“Maaf lahir batin, Mas,” kata Subiyati, isteri saya.

“Begitu juga saya kalau ada salah mohon dimaafkan,” jawabku.

“Sama-sama, Mas. Di hari Idul Fitri ini kita saling maaf-memaafkan.”

Santapan hari pertama Lebaran di rumah seperti lebaran sebelumnya, ya standar santapan khas hari raya Idul Fitri. Ada ketupat beserta teman-temannya. Dan yang selalu ada di rumah saya opor ayam, gulai nangka dan rendang. Terus ada tambahan sambal paru dan kentang.

Malam hari setelah lebaran suasana sangat sepi. Dalam keheningan malam itu, saya tiba-tiba ingat foto kami yang ramai-ramai usai shalat id sambil bersalam-salaman. Dulu kami sering banget pakai baju kembaran.

Seiring berkembangnya wabah Covid-19, hal itu tidak bisa terlaksana lagi. Tapi dari rumah kali ini saya hanya bisa saling memaafkan satu sama lain dan saling mengingatkan agar kita sama-sama menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here