sastra

sastra

MediaMU.COM

May 24, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Mukena Ibu

Oleh: Sucipto Jumantara

Shalat Idul Fitri tahun ini istimewa. Tak ada kesibukan panitia hari besar di lapangan. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kami harus beribadah di rumah saja. Kami taati imbauan MUI dan juga ormas-ormas Islam. Imbauan itu tegas: shalat idul Fitri di rumah saja.

Also Read Sepatu Kulit

Tuntunan ibadah shalat Id di rumah tersebar dalam  bentuk tulisan, info grafis dan juga video pendek yang berisi tutorial pelaksanaan. Contoh-contoh teks khutbah Id banyak dibagikan di grup-grup media sosial. Ribuan Imam dan Khotib mendadak terlahir karena wabah Covid-19.

Begitu juga Ayahku. Mau tak mau ia harus menambah hafalan surat-surat pendek dan menambah ilmu agama, terutama ibadah praktis. Ayah orang abangan, bukan dari keluarga santri. Ibu yang membuatnya harus belajar dan siap menjadi Imam di rumah. Alhamdulillah. Ayah bisa melaksanakan tugasnya menjadi Imam shalat. Ramadan di masa pageblug ini menjadi sekolah yang efektif untuknya meningkatkan ilmu agama, menjadi imam tarawih di rumah.

Senang rasanya. Ada satu ruang kecil yang biasanya untuk menerima tamu, kami jadikan mushola. Kami berkumpul di situ. Shalat berjamaah dan tadarus selama bulan suci Ramadan. Bersama Ayah, Ibu, dan adikku. Tahun ini aku akan masuk SMP. Aku anak perempuan. Anak  pertama dari dua bersaudara. Adikku laki-laki masih kelas 1 SD.

Menjelang hari raya Idul Fitri. Ayah mulai bersiap. Siap mental, siap ilmu, dan siap kemampuan. Memilih khutbah yang ia dapatkan dari jamaah masjid kampung dan juga dari Ibu yang sering ikut pengajian ibu-ibu Aisyiyah di kota Yogyakarta.

Ayah rajin mempelajari tata cara shalat Id. Semangat akan menjadi imam bagi kami. Ia mulai menghafal agar tak lupa takbir 7 kali di rakaat awal. Takbir 5 kali di rakaat ke dua. Setelah membaca Al Fatihah disunnahkan membaca surat  Al A’la dan Al Ghasyiyah jika bisa.

Ayah nampak serius menghafal terus dua surat itu.  Aku lebih beruntung karena aku mulai belajar membaca Al Qur’an sejak di TPA ditambah sekolah di SD Muhammadiyah. Sesekali aku membantu menyimak saat Ayah menghafal. Bacaannya mulai lancar. Tinggal panjang pendeknya kadang lupa. Ayah bersemangat. Tak malu-malu belajar meningkatkan kemahirannya membaca Al Qur’an di depanku.

Ayah selalu ingat. Bahwa mengaji banyak pahalanya. Salah satu amalan yang tiada ruginya. Selalu Ayah ingat dan selalu dipesankan kepadaku. Tiga amalan yang selalu akan membawa keberuntungan asal dilakukan dengan niat ikhlas karena mengharap ridha Allah semata. Shalat, membaca Al Qur’an, dan bershodaqoh.

Ayah juga yakin. Meski bacaan kurang lancar, pahalanya berlipat. Ayah ingat hadits Rasulullah. Orang-orang yang terbata-bata membaca Al Qur’an serta bersusah payah mempelajarinya, maka baginya pahala dua kali lipat.

Ayah sudah makin mantap. Akan menjadi Imam dan khotib Shalat Idul Fitri yang pertama kali dalam hidupnya. Ini sangat istimewa.  Ibu sangat bahagia. Terlihat dari senyumya yang merekah.

“Ayah, hari ini sahur terakhir. Besok kita akan shalat Id di rumah saja. Siap kan Yah?” tanya Ibu sambil tersenyum.

Ayah menjawab dengan jempol kanannya.

Lalu Ibu mencium tangan Ayah. Aku haru melihatnya. Bangga punya orangtua seperti mereka. Hidup kami sederhana. Namun kebahagiaan kami istimewa.

“Kebahagiaan itu ada di sini?” kata Ibu sambil menunjuk dadanya.

“Kebahagiaan hakiki itu di dalam hati,” katanya suatu ketika kepadaku.

Mentari mulai memacarkan sinarnya. Pagi itu, Ibu tiba-tiba merasa sakit kepala. Pusingnya semakin menjadi-jadi. Ibu tak kuat lagi. Ayah langsung mencari mobil. Mencari bantuan tetangga. Menuju Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Dalam perjalanan Ibu merasa sakitnya tak tertahankan. Sesampainya di Rumah Sakit, Ibu dinyatakan sudah meninggal dunia.

“Kami turut berduka cita Pak. Ikhlaskan ya Pak. Semoga Bapak dan keluarga sabar dan tabah. InsyaAllah Ibu husnul khatimah. Meninggal saat bulan Ramadan ini,” kata seorang dokter.

Siangnya ambulan langsung membawa jenazah Ibu menuju rumah. Hari itu juga jenazahnya dimakamkan.

Di hari terakhir Ramadan.

Malam takbiran kami di rumah. Terasa sepi. Tanpa Ibu memasak hidangan spesial untuk hari lebaran. Suara takbir bersautan dari masjid-masjid. Ayah membersihkan ruangan bersamaku. Nampak mata Ayah sembab. Sembari sesekali mengumandangkan takbir mengikuti suara takbir dari masjid.

Ayah membuka almari, mencari pakaian untuk esok pagi. Ayah menemukan satu kertas dalam amplop. Ayah membacanya. Menangis tersedu. Aku mendekat.

“Ini hasil pemeriksaan Ibu di Rumah Sakit. Selama ini Ibu ke Rumah Sakit sendiri. Di situ tertulis. Ibu menderita kanker otak.” Ayah berkata sambil mendekapku erat.

Kami sekeluarga tidak tahu. Ternyata Ibu selama ini merahasiakan penyakitnya.

  Pagi hari, 1 Syawal 1441 H. Ayah menjadi Imam. Aku dan adikku yang masih kecil menjadi makmumnya. Suara Ayah bergetar saat mulai takbir. Tangisnya mulai pecah saat membaca Al Fatihah. Kami semua menangis. Sangat berat rasanya, melaksanakan shalat Id di rumah. Aku memeluk Ayah dan Adik dengan mukena Ibu yang membalut tubuhku.


Yogyakarta, 28 Mei 2020

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here