sastra

sastra

MediaMU.COM

May 24, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sepatu Kulit

Suratiningsih

Cahaya lampu menebar menerangi kamar. Malam ini aku masih sibuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai larut malam. Aku anak STM jurusan Teknik. Dilahirkan di tengah keluarga sederhana. Ayahku seorang tukang kayu dan ibu adalah ibu rumahtangga. Ibu selalu setia mendampinggi ayah.

Kondisi perekonomian keluarga yang sulit membuat aku harus ikut bekerja membantu ayah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagai seorang pemuda usia belasan tahun aku tak memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang, bermain-main, seperti pemuda-pemuda lain di kampung. Menjelang sore banyak teman sebaya menghabiskan waktu nongkrong di pinggir jalan, asyik ngobrol menghabiskan waktu di angkringan, menikmati secangkir kopi, bersendau gurau dengan pemuda yang lain.

Also Read Lebaran di Rumah

Sepulang sekolah, saat mentari mulai menggelincirkan tubuh ke barat. Aku masih membantu pekerjaan ayahku. Sampailah menjelang adzan Maghrib berkumandang. Ayahku mendidik disiplin menunaikan shalat berjama’ah di masjid. Kami sekeluarga bergegas mempersiapkan diri. Selepas shalat Maghrib, anak-anak kampung menghampiriku. Seperti hari-hari biasanya mereka ingin belajar iqra’ bersamaku.

“Kak Budi,” suara Alif memanggilku. Sekarang ngaji lagi kan, Kak?

Aku mengangguk, memberikan isyarat malam ini mengaji lagi. Anak-anak berjajar rapi membentuk lingkaran menunggu kehadiranku di majelis kecil ini. Mereka juga berasal dari keluarga tak mampu, tapi memiliki semangat juang tinggi untuk belajar bersama.

“Alhamdulillah…adik-adik pintar, sholeh, sholihah semuanya. Tadi kakak perhatikan saat adik-adik menunaikan shalat Maghrib tidak ada yang bercanda. Wah kalian hebat…terima kasih ya,” kataku sebelum memulai kegiatan ini.

“Mari…kita buka dengan berdo’a bersama-sama.”

Also Read Senyum Bunda

Anak-anak kecil itu berdo’a besama-sama.

“Kita lanjutkan hafalan kita dulu ya…”

“Kemarin kita sampai surat An Naba’? Sekarang kita lanjutkan An Naziat.”

“ Adik-adik ada yang sudah hafal?”

“Tapi aku belum hafal semuanya Kak…Baru hafal 15 ayat,” sahut Syahrul.

“Lah…itu bagus Dik Syahrul. Ayo…kita coba hafalkan bersama-sama.”

Lantunan Qur’an surat An Naziat mulai terdengar, menghiasi masjid kita ini.

Kami lalui rutinitas bada’ shalat Maghrib bersama adik-adik.

Sesekali kusisipkan kata-kata motivasi agar kami beristiqomah untuk tetap mengaji. Nabi bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an.”

“Dimanapun adik-adik berada jangan pernah tinggalkan Al Qur’an.”

“Iya, Kak,” adik-adik menjawab dengan semangatnya.

Di penghujung semester, saatnya aku menempuh ujian akhir di STM. Alhamdulillah nilai-nilaiku sempurna, sangat memuaskan bagi orang kampung sepertiku.

Tibalah saatnya aku lulus dari STM. Malam semakin larut. Hujan di luar sana sangat deras. Tetesan air hujan sesekali menembus atap kamarku. Pandanganku ke atas menatap genting retak yang berhasil ditembus air hujan. Aku lihat jam dinding tepat pukul 22.00. Biasanya di malam-malam seperti ini aku masih disibukkan dengan tugas-tugas sekolah. Tapi malamini tak ada lagi tugas sekolah. Aku terus berpikir, apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Untuk melanjutkan ke perguruan tinggi rasanya tak mungkin. Aku tak mau menambah beban ayahku.

Di ruang tengah, beralaskan anyaman daun pandan, ayah dan ibu duduk melepaskan lelah. Aku menghampiri, minta izin untuk merantau mengadu nasib di Bontang. Rasanya ibu keberatan aku kerja di sana seperti teman-teman sekelas.

“Ayah, Ibu…Budi ingin bekerja di Bontang. Teman-teman sekelas juga merantau kesana.”

“Siapa tau kalau Budi bekerja disana bisa membantu Ayah, Ibu. Hidup kita bisa berkecukupan.”

Aku melihat wajah ibu sedih. Tak seperti biasanya. Ibu yang selalu mendukung dan memberi semangat, hanya terdiam menatapku. Sesekali ibu melemparkan pandangannya kearah ayah.

“Budi…begini saja.” Kata Ayah memulai pembicaraan, mencairkan suasana yang sedikit beku dan kaku.

“Kamu coba mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. Nanti untuk biaya pendaftaran Ayah akan mengusahakan. Jika diterima, kamu bisa kuliah sambil bekerja.”

“Ilmu itu sangat penting Bud…Dengan berbekal ilmu kamu bisa bermanfaat bagi banyak orang. Selagi kamu masih muda manfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Jangan pernah kamu sia-siakan begitu saja.”

Aku mengangguk dengan kepalaku tertunduk”.

Pagi menjelang siang aku berencana ke rumah Ahmad. Kami teman satu kelas, Ahmad berencana pergi ke Bontang bersama teman-teman. Ahmad dan keluarganya menyambutku dengan ramah. Secangkir kopi hangat dan kacang rebus menemani obrolan kami.

Sesaat lagi adzan Dhuhur berkumandang. Aku bergegas minta izin pulang. Langkahku terhenti saat adzan berkumandang. Aku menuju masjid untuk bergabung melaksanakan shalat jama’ah.

Usai shalat aku bertemu Pak tua pedagang kerupuk. Kami asyik bercerita. beliau menceritakan bahwa anak-anaknya bisa kuliah diperguruan tinggi. Aku semakin tertegun mendengarkan cerita itu. Kemudian aku bertanya penghasilan beliau dalam penjualan krupuknya. Dalam pikirku, tak masuk akal dengan penghasilan segitu bapak ini bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dan membiayai kuliah anak-anaknya.

Bapak tua itu tersenyum ramah. Beliau berpesan bermainlah ke rumahnya jika ada waktu. Beliau memberikan alamat rumah.

“Bapak mau melanjutkan jualan. Sudah ya anak muda.” Setelah mengucapkan salam Pak Tua itu berlalu dari hadapanku.

Aku membantu Ayahku memasah kayu. Pesanan pintu dari seorang saudagar di kampung sebelah. Aku masih penasaran dengan pertemuanku dengan Pak Tua di depan masjid tempo hari. Kok bisa ya…rasa penasaran semakin membelenggu.

Akhirnya selepas aku mendaftarkan diri di satu universitas di Yogyakarta aku putuskan mampir ke rumah Pak Tua. Di rumah kayu itu terlihat beberapa anak-anak muda sibuk membuat sepatu kulit. Selain berjualan bapak tua dan keluarganya itu memproduksi sepatu kulit.

Sesekali aku bertanya tentang proses pembuatan sepatu. Pandanganku tertuju pada sepatu warna hitam yang tersusun rapi di rak pajangan.

“Pak, sepatu ini harganya berapa?” tanyaku.

“Oh..itu harganya seratus ribu, Nak?”

Aku mencoba membuka dompet. Ah ada uang seratus ribu. Kebetulan aku tak punya sepatu. Sepatuku yang dulu sudah robek-robek. Tak apalah aku beli.

“Pak saya ambil sepatu yang ini, ya?”

Hari ini aku lihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Namaku tertulis di urutan pertama. Aku bergegas memberikan kabar ini kepada kedua orangtuaku. Ucapan syukur…memulai langkah kakiku di salah satu universitas Yogya.

“Bud…sepatumu bagus,” kata Alif memandangi sepatu yang kupakai.

“Kamu suka, Lif?”

“Iya…Keren.”

“Ya sudah kalau kamu mau …kamu pakai saja.”

“Bagaimana kalau aku ganti saja, Bud? Kamu belinya berapa?”

“Ini aku beli seratus ribu.”

“Trus aku harus ganti berapa nih?”

“Ah sudah Lif, sama dengan aku beli saja.”

Selang berganti hari, Alif menghampiriku.

“Bud..Budiiii….” Ia berlari-lari kecil menyusulku. Langkahku terhenti di lorong  menuju ruang kuliah.

“Ada apa, Lif? Pagi-pagi kok sudah lari-lari seperti ada yang penting saja.”

Alif tersenyum. Kami seiring sejalan sambil berbincang.

“Begini lho, Bu. Omku kemarin ke rumahku, eh…dia tertarik dengan sepatu kulit yang kubeli darimu. Kira-kira bisa tidak aku minta tolong untuk memesankan sepatu kulit lagi?”

“Oh…begitu. Ya…sudah, insya Allah setelah aku selesaikan pekerjaanku membantu ayah aku pesankan ya.”

Terik matahari menembus kulitku. Hari ini panas sekali. Tenggorokan terasa kering, memanggil-manggilku untuk segera mengalirkan air putih agar bisa menghilangkan rasa haus dan dahaga. Langkahku terhenti, mencari tempat duduk untuk sekadar melepas sedikit lelah. Aku ambil botol minum yang tersedia di tas ranselku. Ah…lega rasanya.

Aku lanjutkan perjalanan menuju Halte Trans Jogya. Tak begitu lama menunggu, angkutan umum warna hijau berpadu kuning itu datang menghampiri penumpang yang sudah menunggu.

Dari kejauhan aku lihat ayahku masih sibuk menyelesaikan beberapa pesanan pintu dan jendela kayu. Aku langkahkan kakiku lebih cepat agar bisa segera membantunya. Begitulah aktivitas sepulang kuliah. Sesekali jika pekerjaan ayah bisa aku tinggalkan, aku mencari lowongan pekerjaan dengan bekal ijazah SMK.

Dari surat lamaran yang aku ajukan ke beberapa perusahaan, belum ada satu pun kabar berita. Tapi tak apalah aku harus terus mencoba. Aku niatkan di hatiku ini sebagai ikhtiar. Aku tidak tahu selepas semester satu dari mana bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya kuliah. Rasa khawatir akan biaya kuliah terus menghantuiku.

Di hari libur kuliah aku sempatkan pergi ke rumah kayu, dimana Pak Tua dan keluarganya memproduksi sepatu kulit. Aku sudah berjanji kepada Alif untuk memesankan sepatu kulit. Pak Tua dan keluarganya menyambut dengan ramah. Aku ceritakan tujuanku berkunjung. Pak Tua tersenyum dan mengajakku di ruang produksi sepatu kulit. Aku mengambil sepasang sepatu kulit seperti yang dipesan Alif. Dengan ragu-ragu aku bilang kepada Pak Tua.

“Pak maaf…saya belum punya uang untuk membayar sepatu ini.”

“Sepatu ini pesanan dari teman saya apakah saya diizinkan untuk membawanya? Nanti jika teman saya sudah bayar, baru saya bayarkan kepada Bapak.”

“Baiklah, Nak…Boleh, silakan sepatunya dibawa dulu.” Pak Tua segera membungkus sepatu itu dan menyerahkan kepadaku.

Ucapan terimakasihku kepada Pak Tua sebelum aku berpamitan. Hatiku sangat bahagia. Aku kayuh sepedaku menuju rumah Alif. Aku lihat Alif dan keluarganya duduk bersantai di teras. Dengan senyum girang aku hampiri Alif. Ia bergegas berlari memendekatiku.

“Hai…gimana, Bud? Sepatunya sudah ada?”

Sambil tersenyum aku ulurkan bungkusan plastik kresek hitam.

“Bud…ayo masuk rumah dulu, kebetulan omku ada di dalam.”

Alif mengajakku masuk ke ruang tamu, mempertemukanku dengan omnya.

“Silakan duduk, Bud.”

Aku duduk di sofa segi empat yang memenuhi ruang tamu. Suasana begitu nyaman. Alif masuk ke dalam memanggil omnya.

“Om..perkenalkan ini Budi temanku, yang membelikan sepatu kulitku kemarin.”

“Oh..iya…Bagaimana pesanan sepatu untuk om sudah ada kah?”

“Sudah Om.” Alif mengulurkan bungkusan sepatu kulit itu.

Om duduk disebelahku. Membuka bungkusan itu dan mencobanya.

“Wah pas sekali ini, Bud. Berapa harganya?”

Setelah aku menjawab seratis ribu, ia mengambilkan uang dari dompetnya.

“Ini Bud,” kata om sambil mengulurkan dua lembaran uang kertas kepadaku.

“Oh…seratus ribu saja, om.”

“Lho kamu kesini naik apa?”

“Naik sepeda, om.”

“Ini yang sepuluh ribu untuk ongkos naik sepeda.”

Budi tersenyum.

“Ah..tidak usah om, saya sudah terbiasa naik sepeda kok.”

“Tidak apa-apa, Bud.” Om menyelipkan uang seratus sepuluh ribu rupiah di kantong bajuku.

Dengan rasa bahagia aku kayuh sepedaku lebih kencang dari biasanya. Aku laju sepedaku menuju rumah kayu, memenuhi janjiku kepada Pak Tua. Sepanjang perjalanan aku berpikir,  “Wah hanya sebentar saja aku jualkan sepatu kulit itu aku mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah. Bagaimana jika bisa menjualkan sepatu lebih banyak lagi ya. Aku bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliahku di semester depan.”

Sepeda berhenti di depan rumah kayu. Aku menghampiri Pak Tua.

“Pak…Alhamdulillah, hari ini teman saya sudah membayar sepatu itu. Ini saya bayarkan.”

Dengan tersenyum Pak Tua menerima uang lembaran seratus ribu. Di teras depan rumah kayu kami berbincang. Aku ceritakan niatku untuk ikut menjualkan sepatu kulit.

“Jika saya mengambil lebih dari satu sepasang sepatu, saya harus DP berapa persen?”

“Ambil saja semampumu, Nak. Jika sepatu yang kau bawa sudah laku, baru kamu bayarkan kepada Bapak.”

Hatiku sangat girang menerima kebaikan hati Pak Tua. Aku ambil tiga pasang untuk aku jual.

Selepas jam kuliah, aku berjalan menuju gang-gang kecil di kota untuk menawarkan sepatu. Dari rumah kerumah. Hari pertama tak seorang pun membeli sepatu kulit itu. Aku tidak putus asa. Setiap hari sepulang kuliah aku terus mencoba menawarkan sepatu kulit.

Dihari ketiga ada ibu-ibu yang membelikan sepatu kulit untuk suaminya. Hatiku sangat senang. Aku lanjutkan perjalanan menawarkan sepatu kulitku sambil tetap mengingat-ingat materi kuliahku. Saat adzan berkumandang aku bergegas ke masjid. Disitulah selepas shalat aku baca-baca lagi materi kuliah sambil bersandar di tiang masjid yang menyejukkan hati.

Sepatu kulit habis terjual aku kembali ke rumah kayu untuk bertemu dengan Pak Tua. Senang rasanya bisa menyetorkan semua hasil penjualan. Selain itu, mendapatkan keuntungan tiga puluh ribu rupiah.

“Nak…ini bonus untuk untuk hasil penjualan mu.” Pak Tua memberikan uang kepadaku enam puluh ribu rupiah untuk tiga sepatu.

“Ah…tidak, Pak. Saya sudah mengambil keuntungan dari penjalan sepatu itu?”

“Tidak apa-apa, terima saja ini adalah rezekimu.”

Hatiku semakin berbunga-bunga. Aku mendapatkan keuntungan ditambah bonus dari Pak Tua. Aku semakin bersemangat menjadi sales sepatu kulit. Sepulang kuliah aku berkeliling dari rumah ke rumah menawarkan sepatu.

Pada suatu ketika ada ibu-ibu pesan.

“Mas…jualan kain batik Yogya?”

“Oh iya Bu insya Allah saya carikan.”

Aku coba mencari kain batik di Pasar Bringharjo Yogyakarta. Disana aku temukan kios penjualan kain batik. Aku bilang pada pemiliknya jika aku mencari kain batik untuk dijual kembali. Pemilik kios bilang pembelian harus cash. Kalau begitu aku ambil dua dulu saja, karena uang tidak cukup.

Aku kembali ke rumah ibu yang pesan kain batik. Alhamdulillah dua lembar kain batik dia beli semua. Lega rasanya. Aku berusaha memuaskan pelanggan-pelanggan.

Sampailah aku di semester tiga. Aku bersyukur selalu ada rezeki yang Allah titipkan kepadaku untuk biaya kuliah. Dari hasil penjualan sepatu kulit, bisa menopang biaya kuliah. Di semester tiga matakuliah kewirausahaan mengubah pola pikirku. Dosen kewirausahaan mengadakan workshop digital marketing. Disinilah aku belajar pemasaran secara oneline. Melalui media-media sosial. Matakuliah ini sangat membantu dalam mengembangkan potensi diri.

Dosenku bilang jika ada mahasiswa yang sudah memiliki usaha beliau berjanji akan memberikan nilai A+. Dengan mudah aku bisa mendapatkan nilai sempurna. Saat dosenku memintaku untuk menyusun business plan, dengan mudah aku mempresentasikan di depan teman-temanku. Aku ceritakan suka duka menjadi sales sepatu kulit. Penjualan sepatu kulit semakin meningkat. Omset jutaan rupiah sudah biasa aku lampaui.

Aku tetap memegang komitmen untuk tetap belajar dan bekerja seperti pesan Ayah, agar bisa bermanfaat bagi sesama. Bukan hanya memikirkan diri sendiri. Aktivitasku yang padat membuatku tak sempat berpikir untuk bermai-main menghabiskan waktu seperti teman-teman.

Sampai akirnya aku diwisuda jenjang S1 dengan predikat cumlaud. Aku bersyukur bisa membahagiakan Ayah Ibu, melihatku dengan toga wisuda di auditorium kampus tercinta. Dengan nilai-nilaiku yang nyaris sempurna aku mendapatka beasiswa melanjutkan studi jenjang S2.

Rasa bahagia semakin kurasakan di hari wisuda. Mendapat kesempatan mejanjutkan studi S2 dengan beasiwa full studi membuat aku semakin bersyukur. Iya betul, bahwa rencana Allah lebih indah dari rencana kita. Allah memberikan segalanya agar hidup kita lebih bermakna. Aku mahasiswa tercepat, terbaik, dan cumlaud membuat orangtua semakin bersyukur. Aku tahu betul bahwa semua ini tak lepas dari do’a ibu dan ayah yang rajin bangun di sepertiga malam untuk melangitkan do’a-doanya

Menjadi mahasiswa S2 aku jalani dengan lebih semangat lagi. Apalagi ini adalah amanah beasiwa yang harus dipertanggungjawabkan. Aku semakin bertekad suatu saat nanti harus bisa memberikan banyak manfaat bagi banyak orang. Studi S2 berjalan lancar.

Selesai S2 aku diminta menjadi dosen di salah satu universitas di Yogyakarta. Menjadi dosen adalah panggilan jiwa agar bisa terus berdiskusi, memotivasi, menginspirasi anak-anak muda untuk memiliki semangat juang tinggi.

Aku bahagia banyak mahasiswa tertarik dengan cara mengajarku. Karena prestasiku di kampus aku mendapatkan kesempatan melanjutkan studi S3.

“Ayah Ibu, aku tuntaskan harapan dan do’a mu untuk terus berdo’a, belajar, bekerja, dan terus menuntut ilmu,” kataku dalam hati. (*)

Penulis tinggal di Jatirejo, Sendangadi, Mlati, Sleman,Yogyakarta

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here