sastra

sastra

MediaMU.COM

May 24, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Si Pemurung dan Ahli Makrifat

Oleh: Robby H. Abror*

Langit cerah menggantung di atas bumi yang kembali tenang setelah sekian lama terpasung dalam kesibukan manusia. Kicau burung gereja terdengar lebih jernih. Pagi itu jari-jemari Pak Kyai Tauhid masih sibuk memutar tasbihnya. Pagi dan sore ia rutin mewiridkan kalimat thayyibah dan asmaul husna. Di atas kursi goyang di beranda rumahnya ia memandang jalanan yang lengang tak seperti biasanya. Tampaknya ia menikmati betul masa panjang isolasi ini. Tiba-tiba datang anak muda yang biasa dipanggil Habib, dikenal pemurung dan hobi merenung itu singgah ke rumah Pak Kyai. Sudah lama ia tak terlibat dialog dengan pemuka agama di desanya itu. Desa Panjunan, dikenal sebagai kampung santri, terletak di Selatan pinggiran Kota Metropolitan.

Also Read Senyum Bunda

* * *

“Aku tak punya televisi apalagi telepon seluler. Aku hanya mendengar dari jamaahku tentang wabah yang sudah merenggut ratusan ribu jiwa meninggal dunia dan jutaan orang terinfeksi positif. Seusiaku yang sudah lebih dari enam puluh tiga tahun ini, seharusnya bisa aku syukuri lebih banyak lagi dengan beribadah kepada gusti Allah,” kata Pak Kyai yang usianya terpaut empat puluhan tahun dengan anak muda itu.

“Bukankah selama ini Pak Kyai sudah rajin ke Masjid? Aku khawatir kalau akan terjadi apa-apa dengan Pak Kyai dan warga di sini. Agama Hindu, Budha, Kristen, Khonghucu juga merelakan momen-momen penting keagamaan mereka untuk tidak meramaikan tempat-tempat ibadah. Kenapa kau tak hiraukan himbauan majelis ulama dan beberapa ormas Islam untuk tidak pergi ke tempat ibadah?” tanya anak muda itu dengan polosnya.

“Apa pedulimu menanyakan hal itu?”

“Tidak ada yang peduli kepada kita berdua. Kau seorang ahli ibadah, sedangkan aku hanya sibuk merangkai makna.”

Also Read Oh, Virus Korona

“Sudahi saja racauanmu anak muda. Dunia ini penuh tipu daya.”

“Aku sudah menyadari kau akan bilang begitu. Apalah artinya aku bagimu? Tak memberi makna apapun selain menambah kebingunganmu. Ya kan?!”

“Begini anak muda, aku perlu menjelaskan sesuatu kepadamu atas kelancanganmu itu.”

“Maafkan aku Pak Kyai.”

“Kau tahu kan, orang-orang itu tiba-tiba saja jadi sok pintar dan fasih membicarakan tentang wabah virus Covid-19 ini. Sudah kayak professor dan dokter saja. Mereka melarangku untuk datang ke masjid sama seperti celotehanmu itu. Padahal aku lihat mereka juga nongkrong-nongkrong di jalan, di pasar, di banyak tempat lain. Apa itu namanya bukan berkumpul?”

Anak muda itu terus saja memandangi sorban putih Pak Kyai yang mulai lusuh, janggutnya yang hampir memutih sempurna dan tasbih yang selalu dibawa ke mana-mana oleh Pak Kyai.

“Apakah itu berarti Pak Kyai menegasikan terjadinya penularan dan dampak yang lebih berbahaya untuk Pak Kyai sendiri dan jamaah lainnya? Virus ini tak pandang bulu, kelas atau pun jabatan. Semua manusia bisa mati seketika.”

“Waduh kau ini sukanya menggurui. Kau tampak seperti ahli masa depan sekarang. Belum terjadi apa-apa kok sudah memvonis orang. Gak baik memojokkan orang tua. Nalarmu belum sampai pada logikaku. Kau tak akan paham apa yang aku pikirkan. Maaf aku mau siap-siap ke masjid dulu,” ujar Pak Kyai.

Selepas pulang dari masjid, ia melewati rumah anak muda yang sok tahu itu.

“Pasti ia akan menyapaku lagi dan menyoal kebiasaanku. Dasar pemurung, gak ada kerjaan lain apa selain merenung dan mengusik ketenangan orang lain?!,” gumam Pak Kyai.

Assalamualaikum Pak Kyai. Sudahkah kau renungkan bahayanya berjamaah di tengah pandemi?”

Wa’alaikumsalam. Sudahlah Bib. Kau belum paham apa makna kedekatanku pada Tuhan.”

“Aku justru tertarik untuk menanyakan padamu tentang kedekatanmu itu.”

“Jangkrik!” Pak Kyai misuh dalam hati. Tak pernah terlintas pilihan kata itu sebelumnya.

“Sudahlah anak muda. Aku tidak mau menghabiskan waktu percuma. Puasa Ramadan ini pintu-pintu langit dibuka. Pintu ampunan terbuka lebar. Aku ingin mengkhatamkan bacaan Quranku. Aku pamit dulu.”

* * *

Waktu sholat berikutnya tiba. Tak ada jalan lain, Pak kyai selalu lewat gang depan rumahnya. Anak muda itu selalu menunggunya sambil membaca buku-buku filsafat kesukaannya.

“Pak kyai kau masih saja menuruti keinginanmu untuk melanggar peringatan itu. Himbauan dan peringatan agar umat ini tak memaksakan diri berjamaah ke rumah Tuhan, kau tabrak.”

“Insya Allah nanti aku jelaskan,” sahut Pak Kyai sambil membetulkan maskernya yang miring.

* * *

Sepulang dari sholat berjamaah. Pak kyai masih sudi menjelaskan kengototannya untuk tidak mengindahkan larangan berkumpul dan berjamaah.

“Anak muda, kau tidak akan paham akan arti dua hal, yaitu takdir dan kematian. Jika sudah takdirnya aku mati memang sudah tertulis di lauhul mahfudz demikian. Jika belum saatnya, aku akan terus berusaha lebih dekat pada kekasihku.”

“Pak Kyai, mengapa kau mendahulukan egomu di atas keselamatan orang banyak? Tidakkah kau punya alasan rasional untuk menjaga jamaah agar tidak tertular virus itu lebih banyak lagi.”

“Maaf aku pamit dulu, Bib. Masih 15 Juz lagi yang belum kudaras.”

“Baiklah, Pak Kyai nanti malam ba’da Sholat Tarawih aku setia menunggu kesediaanmu untuk berdiskusi denganku. Aku tak bisa membiarkan isi kepalaku terkoyak oleh aksi nekatmu itu.”

“Baiklah, insya Allah.”

Setelah itu, beberapa kali Sholat Fardhu, keduanya hanya bertatap mata dan saling bersahut salam. Tak saling melempar tanya seperti biasanya. Sebab mereka berjanji untuk menuntaskan masalah itu malam ini. Waktu yang cukup panjang hingga jelang sahur atau imsak tiba. Sepulang Sholat Tarawih, Pak Kyai menepati janjinya. Ia mengundang Habib ke rumahnya.

“Pak Kyai, aku masih mau menyoal tentang kengototanmu itu? Berikan alasan yang dapat aku terima atau aku akan menolak semua argumentasimu.”

“Baiklah anak muda, aku akan menjelaskan sesuatu yang belum kau pahami. Suasana keagamaan yang berkaitan dengan ritual agama, seperti taraweh dan tadarus di bulan puasa ini memiliki daya magis. Hati orang beriman tak dapat berbohong. Aku selalu merindukan suasana kekhusyuan dan kebersamaan seperti itu.”

“Apakah dengan begitu kau tetap memaklumi sikapmu?”

“Aku tidak menentang keputusan ulama. Aku paham itu. Orang sibuk bertanya tentang hukum meninggalkan sholat Jumat tiga kali bahkan lebih, ada yang bertanya tentang mudaratnya orang yang bersikukuh ikut berjamaah, tentang rukhshoh dalam beribadah, tentang pahala bagi para pasien dan tim medis yang meninggal dunia karena wabah ini. Aku telah menjelaskan semuanya kepada jamaahku dengan dalil naqli dan logika rasional secara terang-benderang. Aku paham peringatan Allah agar kita tidak menjerumuskan diri dalam kehancuran dan larangan mencelakakan orang lain.”

“Lalu apa yang membuat Pak Kyai tidak bergeming dari kengeyelan ini?”

“Anak muda, kekuatan batin itu tak dapat dibendung dengan larangan, peringatan, himbauan bahkan ancaman. Dari sisi keputusan ruhaniah semua yang sudah paham akan dampak bahaya penularan virus itu pasti tidak dapat menerima keputusan ngotot berjamaah ke masjid. Sudah pasti resiko besar tertular dan positif terinfeksi.”

“Lha iya, kalau sudah kena lalu jamaah juga terpapar bagaimana? Bukankah itu akan merepotkan semua orang. Aku mengajuan dua pilihan. Pertama, kau dipaksa mengikuti keputusan ulama dan pemerintah. Jika melanggarnya kau akan kena sanksi. Atau kedua, jika tetap minta diberi toleransi, maka kau dan keluargamu harus ikut bertanggung jawab atas semua yang akan terjadi.”

“Pikiranmu sempit nak. Kau belum merdeka dalam memahami aspek kebatinan. Kau belum mikrajkan hatimu ke dalam ceruk kerinduan pada Tuhan.”

“Apakah itu alasan utamamu?”

“Itu bukan alasanku, tapi itu logika batinku untuk melepaskan rindu yang terpendam.”

“Aku sekarang paham kenapa kau tetap bersikukuh dengan pendapatmu. Kau mentransformasikan kerinduan iman itu dalam logika kebatinanmu.”

Dialog anak muda dan Pak Kyai ini tak terasa telah membuat bulan purnama ikut menyimak hingga tuntas. Begitulah jika rasio dan iman bersanding dalam percakapan yang serius. Hanya mata batin yang mampu menembus dinding penyekatnya.

“Kalau boleh tahu kepada siapa kau berguru Pak Kyai?”

“Aku hanya sibuk mengkhatamkan al-Quran, mendawamkan bacaan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Selebihnya membolak-balik karya Imam al-Ghozali Ihya’ Ulumuddin.

Anak muda itu terperanjat kaget mendengar pengakuan Pak Kyai. Ia mengira ulama kampung itu hanya sibuk berzikir saja. Ternyata ia juga kutu buku dan mengenal dengan baik samudera hikmah tasawuf falsafi.

“Anak muda, aku sudah lama memendam tanya pada dirimu. Sebenarnya setiap kali kau bertanya kepadaku aku merasa kesal dan hampir tak bisa tidur pulas. Pertanyaanmu selalu menggelayut dalam benakku. Apalagi jalan satu-satunya menuju ke masjid harus melewati depan rumahmu. Dan kau tak ada kerjaan lain selain membaca buku di teras rumahmu dan menyapaku dengan omonganmu yang mengusik kepalaku. Kepada siapa kau berguru?”

“Pak Kyai, aku bukan ahli ibadah sepertimu, tapi aku juga punya cara bersyukur dengan menghabiskan membaca Republik Plato karya Ibnu Rusyd. Aku sebenarnya sudah tahu jalan pikiranmu. Hanya saja aku rindu kau hadir dengan hati dan logikamu, bukan dengan sikap emosimu. Sebab itulah, kita dapat mengatasi kesombongan dan kebosanan ini.”

“Anak muda, aku tak mengira punya firasat terhadap dirimu. Keberanianmu melontarkan pertanyaan kepadaku itu bukan pertanyaan anak ingusan. Itu pertanyaan berkelas. Selama ini aku hanya melabelimu sebagai pemurung. Fisikmu membutakan penglihatanku. Tapi tidak dengan batinku. Kau dapat menyapa relung batinku, bukan ritual ibadahku semata.”

“Sama-sama Pak Kyai. Terima kasih kau telah membukakan jalan pikiranku dengan menjembatani rasioku dengan logika kebatinanmu. Tapi aku belum sepenuhnya percaya padamu. Setelah perbincangan yang melelahkan malam ini, sudikah kau berhenti dari kengototanmu?”

Sambil tersenyum Pak Kyai menjawab, “aku bisa menerima permintaanmu dengan satu syarat.”

“Lekaslah. Langit telah gelap gulita. Jangan buang-buang waktu lagi.”

“Hanya jika kau mampu mendamaikan rasiomu dengan iman. Kita akan mampu melampaui persepsi inderawi. Ini adalah tanda dari nafas ar-Rahman. Dunia sedang menyepi sunyi. Tuhan bisa menghentikan detak jantung ini kapan saja. Kita hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk memahami pesan-pesan-Nya. Kematian adalah misteri. Ia ada dalam kehidupan itu sendiri, bahkan ketika kau belum dilahirkan.”


*Penikmat sastra dan suluk tarekat. Akademisi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga. Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPI PWM) DIY.

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here